Minggu, 25 Maret 2018

2 Sistem Tak Masuk Akal Ini Diterapkan Sekolah Athirah Bone



            Pendidikan merupakan proses untuk menciptakan generasi bangsa. Pendidikan berperan penting dalam pembentukan karakter anak bangsa. Di zaman yang cukup modern ini banyak sekali metode sistem pendidikan yang diterapkan oleh beberapa sekolah sebagai bentuk pembentukan karakter.  Karakter memiliki beberapa unsur atau yang dapat dinilai yaitu, sikap, emosi, kepercayaan, kebiasaan atau kemauan, serta konsepsi diri (self-conception). Semua unsur karakter tersebut bisa dibentuk melalui kebiasaan.
Lingkungan dan bawaan (fitrah) merupakan faktor terbentuknya sebuah karakter. Adapun faktor bawaan bisa dibina dari faktor lingkungan. Jadi sebenarnya, lingkunganlah yang berperan besar dalam proses pembentukan karakter seseorang. Banyak hal yang bisa dibentuk dalam karakter salah satunya karakter kejujuran.
Kejujuran merupakan sebuah hal yang begitu penting dalam kehidupan. Kejujuran menjadi tolak ukur baik atau buruknya karakter seorang manusia. Sekolah adalah tempat di mana anak-anak mendapat banyak pengalaman termasuk kejujuran. Lepas dari itu, maka sangatlah penting seluruh sekolah mengutamakan pembentukan karakter kejujuran.
Saat ini sudah banyak warga sekolah yang sadar akan pentingnya karakter kejujuran ini apalagi untuk proses membentuk generasi bangsa. Namun, kemerosotan nilai moral masih sangat terus tumbuh tinggi dalam lingkup anak sekolah. Belum lagi ditambah peran orang tua dan guru yang seakan tidak merasa miris akan bencana yang akan berdampak pada masa depan bangsa. Aturan-aturan ketat dan keras yang hanya membuat beberapa siswa tempramental rupanya belum bisa menjadi solusi dari problematika bangsa ini.
Pemerintah terus berpikir keras akan solusi dari masalah ini. Sekolah juga tak kalah dibuat pusing untuk terus berpikir akan sebuah sistem. Athirah Bone salah satu sekolah di Sulawesi Selatan juga berusaha untuk membangun sebuah sistem untuk membentuk karakter kejujuran. Sekolah yang cukup berbunga harum namannya ini membuat sebuah sistem beda dari yang lain. Jika kita sebagai manusia yang normal sistem yang sekolah ini bangun adalah sistem yang betul-betul tak masuk akal.
Di saat seluruh sekolah menghawatirkan akan kebiasaan menyontek. Di saat seluruh sekolah berusaha menjauhkan para siswa dari yang namanya kunci jawaban saat menjalani ulangan. Di saat para siswa dijaga begitu ketat saat ulangan. Athirah Bone malah menantang siswa dari semua masalah itu.
Sistem ujian tanpa pengawasan dan pemberian kunci jawaban adalah sistem yang diterapkan sekolah Athirah Bone. Ntah apa yang ada dipikiran para guru dan staf karyawan sehingga mereka sangat berani menerapakan sistem ini. Jika kita lihat secara mata telanjang sungguh sistem ini bukanlah suatu hal yang masuk akal. Di saat seluruh sekolah mati-matian menguras otak untuk memecahkan masalah nyontek-menyontek, Athirah Bone malah hadir dengan sistem yang membuat orang-orang memutar otaknya.
Ujian tanpa pengawasan
 Para siswa adalah seorang remaja yang labil, agresif, dan gampang terpengaruh. Mungkin awalnya mereka akan semangat dan berprinsip untuk tidak menyontek walau tanpa guru. Namun, disaat menghadapi soal yang rumit dan putus asa mencari jawaban maka disitulah kekuatan besar untuk menyontek terbesit. Toh kami ujian tanpa guru? Siapa yang melihat? Para siswa yang lain juga sibuk dengan kertas putih dan tinta hitam mereka. Apalagi disaat yang bersamaan seorang teman yang tepat duduk berdekatan juga membutuhkan sebuah jawaban. Bukankah ini kesempatan emas untuk mendapat nilai sempurna dalam ujian?
Jika kembali kita lihat dari sudut pandang yang berbeda tentu ini bukan untuk membentuk karakter kejujuran. Namun, mungkin saja makin memperumit masalah yang sejak dulu tak bisa dipecahkan ini. Benar-benar tak masuk akal, bukan?
Athirah Bone sebagai sekolah yang berslogan Anggun,Unggul, Cerdas malah unjuk diri dengan hadirnya sistem ini. Mereka percaya bahwa seluruh anak Athirah telah melalui seleksi yang begitu panjang untuk masuk di sekolah yang bertaraf nasional ini sehingaa betul-betul orang terpilihlah yang berhak berpijak sebagai siswa di sekolah tersebut. Namun, itu menurut beberapa orang bukanlah sebuah jaminan. Remaja tetaplah remaja. Remaja yang aktif dan selalu penuh rasa penasaran.
Kunci Jawaban disimpan di atas meja masing-masing
            Hal ini yang lebih tak masuk akal. Mana ada sekolah yang membiarkan siswa memegang kunci jawaban saat ujian? Itu hanya ada di Athirah Bone. Kunci jawaban dalam keadaan dibalik disimpan tepat di  atas dan depan mata para siswa. Kertas yang berukuran seperempat dari ukuran sempurna sebuah kertas HVS itu di balik posisinya ada sebuah kunci jawabn dari mata pejaran yang sedang di ujiankan saat itu juga. Untuk melihat kunci jawaban itu siswa hanya membalik kertas itu dan tidak merubah posisinya serta melirik dengan mata yang tajam beberapa nomor kunci jawaban itu. Itu jika dia mau saat dia sedang menjalankan ujian. Artinya siswa seperti itu gagal dalam pembentuk karakter kejujurannya. Di tambah satu hal mengejutkan lagi, para siswa diberikan hak untuk memeriksa sendiri hasil jawabannya dengan melihat kunci jawaban.
            Hal ini juga tak kalah mengundang tanda tanya besar. Dalam kesempatan tersebut bukan peluang kecil beberapa para siswa mengganti jawabannya dengan yang sesuai dikunci jawaban yang telah disediakan itu. Lagi-lagi bukankah ini hanya menambah masalah akan menurunya karakter kejujuran siswa? Sungguh, Athirah Bone membuat setiap orang tercengang akan sistem yang betul-betul tak masuk akalnya.
***
Setiap sekolah pasti menginginkan siswanya untuk punya karakter yang bermutu. Pun dengan Athirah Bone sebagai sekolah yang bermutu  di Sulawesi Selatan tentu selalu berusaha untuk menerapkan sistem demi terwujudnya pembentukan karakter, terutama karakter kejujuran. 2 hal sistem di atas memang menurut beberapa orang dan para siswa juga tak kalah dibuat tercengang menganggap bahwa sistem ini benar-benar tak masuk akal.
Para siswa Athirah Bone yang menjadi sasaran dan menjalani penerapan sistem ini tentu punya sudut pandang yang berbeda. Namun, hampir seluruh siswa lebih mendominasi mempunyai sudut pandang yang negatif.
“Ini hanya membuat kami down di hari ujian esoknya...”
“Sungguh, kunci jawaban itu sangat menggoda apalagi tanpa pengawas”
“Ah, ini hanya mengajarkan kami untuk berbohong”
“Saya tidak suka dengan sistem ini”

Itu adalah beberapa ocehan siswa akan penerapan sistem tersebut. Lepas dari segala sudut pandang negatif, tentu untuk menerapkan sistem ini bukanlah sebuah hal yang dimain-mainkan. Bukan hanya sebgai uji percobaan belaka. Namun, sistem ini diusahakan akan terus berlanjut hingga angkatan-angkatan selanjutnya.
Para guru dan staf karyawan tidak hanya memberikan begitu saja bentuk penerapannya. Namun, sebelum kami masuk dalam ruangan ujian kami diberi sepatah dua kata yang jika kami mengingatnya akan menjadi alarm tersendiri ketika niat buruk itu menghampiri. Sebagian siswa terutama yang menyukai tantangan sangat setuju akan hadirnya sistem ini. Mereka merasa tertantang untuk melawan diri mereka sendiri. Beda lagi dengan beberapa siswa yang terbilang punya karakter regilius, mereka merasa bahwa ini benar-benar menguji keimanan mereka. Sistem ini akan membuktikan apakah mereka benar-benar termasuk golongan yang jujur atau munafik.
            Seorang Kepala Sekolah tentu punya rasa khawatir jika mereka menghadapi sistem yang seperti ini karena merekalah yang memiliki tanggung jawab besar dari sisitem ini sendiri. Bapak Syamsul Bahri, seorang Kepala Sekolah SMA Athirah Bone juga merasakan seperti itu. Namun, beliau tidak akan membuat siswanya down –turun­­- merasakan hal yang sama. Beliau harus terlihat tegar sebagai seorang Kepala Sekolah.
“Kami memang tidak melihat, namun ada yang lebih besar melihat kalian. ALLAH. Kami mungkin tidak akan terkecoh dengan jawaban kalian, sikap kalian, namun Allah tidak akan mampu kalian kecoh. Kami mungkin tidak akan menghukum kalian jika tak ketahuan melihat kunci jawaban itu. Tapi, sungguh balasan Allah jauh lebih berat yang akan kalian dapatkan.” tutur Syamsul Bahri S,pd.
            Hadits dan ayat al-quran tentang kejujuran tak lupa ditampilkan juga di atas kertas kunci jawaban yang ada depan mereka. Jadi, selain para siswa mendapat motivasi juga kembali diingatkan melalui kunci jawaban itu sendiri.
Harapan mereka sebagai tenaga pendidik dengan diterapkan sistem ini  adalah agar mereka terbiasa untuk bersikap jujur dalam keadaan bagaimana pun. Sistem ini sebagai bentuk pembiasaan sejak dini dalam karakter jujur. Sekali lagi, sekolah punya peranan besar untuk pembentukan karakter. Maka dengan itu Athirah Bone turut andil dalam peran tersebut. Semoga Athirah Bone bisa menjadi teladan bagi seluruh sekolah dalam proses pembentukan karakter, terutama karakter kejujuran yang harus ditanamkan sejak dini pada anak.
Wafiq Azizah Annisa R.








1 komentar:

2 Sistem Tak Masuk Akal Ini Diterapkan Sekolah Athirah Bone

            Pendidikan merupakan proses untuk menciptakan generasi bangsa. Pendidikan berperan penting dalam pembentukan karakter anak b...