Pendidikan
merupakan proses untuk menciptakan generasi bangsa. Pendidikan berperan penting
dalam pembentukan karakter anak bangsa. Di zaman yang cukup modern ini banyak
sekali metode sistem pendidikan yang diterapkan oleh beberapa sekolah sebagai
bentuk pembentukan karakter. Karakter
memiliki beberapa unsur atau yang dapat dinilai yaitu, sikap, emosi,
kepercayaan, kebiasaan atau kemauan, serta konsepsi diri (self-conception). Semua
unsur karakter tersebut bisa dibentuk melalui kebiasaan.
Lingkungan dan
bawaan (fitrah) merupakan faktor terbentuknya sebuah karakter. Adapun faktor
bawaan bisa dibina dari faktor lingkungan. Jadi sebenarnya, lingkunganlah yang
berperan besar dalam proses pembentukan karakter seseorang. Banyak hal yang
bisa dibentuk dalam karakter salah satunya karakter kejujuran.
Kejujuran
merupakan sebuah hal yang begitu penting dalam kehidupan. Kejujuran menjadi
tolak ukur baik atau buruknya karakter seorang manusia. Sekolah adalah tempat
di mana anak-anak mendapat banyak pengalaman termasuk kejujuran. Lepas dari
itu, maka sangatlah penting seluruh sekolah mengutamakan pembentukan karakter
kejujuran.
Saat ini sudah
banyak warga sekolah yang sadar akan pentingnya karakter kejujuran ini apalagi
untuk proses membentuk generasi bangsa. Namun, kemerosotan nilai moral masih
sangat terus tumbuh tinggi dalam lingkup anak sekolah. Belum lagi ditambah
peran orang tua dan guru yang seakan tidak merasa miris akan bencana yang akan
berdampak pada masa depan bangsa. Aturan-aturan ketat dan keras yang hanya
membuat beberapa siswa tempramental rupanya belum bisa menjadi solusi
dari problematika bangsa ini.
Pemerintah
terus berpikir keras akan solusi dari masalah ini. Sekolah juga tak kalah
dibuat pusing untuk terus berpikir akan sebuah sistem. Athirah Bone salah satu
sekolah di Sulawesi Selatan juga berusaha untuk membangun sebuah sistem untuk
membentuk karakter kejujuran. Sekolah yang cukup berbunga harum namannya ini
membuat sebuah sistem beda dari yang lain. Jika kita sebagai manusia yang
normal sistem yang sekolah ini bangun adalah sistem yang betul-betul tak masuk
akal.
Di saat seluruh
sekolah menghawatirkan akan kebiasaan menyontek. Di saat seluruh sekolah berusaha
menjauhkan para siswa dari yang namanya kunci jawaban saat menjalani ulangan. Di
saat para siswa dijaga begitu ketat saat ulangan. Athirah Bone malah menantang
siswa dari semua masalah itu.
Sistem ujian
tanpa pengawasan dan pemberian kunci jawaban adalah sistem yang diterapkan
sekolah Athirah Bone. Ntah apa yang ada dipikiran para guru dan staf karyawan
sehingga mereka sangat berani menerapakan sistem ini. Jika kita lihat secara
mata telanjang sungguh sistem ini bukanlah suatu hal yang masuk akal. Di saat
seluruh sekolah mati-matian menguras otak untuk memecahkan masalah
nyontek-menyontek, Athirah Bone malah hadir dengan sistem yang membuat
orang-orang memutar otaknya.
Ujian tanpa
pengawasan
Para siswa adalah seorang remaja yang labil,
agresif, dan gampang terpengaruh. Mungkin awalnya mereka akan semangat dan
berprinsip untuk tidak menyontek walau tanpa guru. Namun, disaat menghadapi
soal yang rumit dan putus asa mencari jawaban maka disitulah kekuatan besar
untuk menyontek terbesit. Toh kami ujian tanpa guru? Siapa yang melihat? Para
siswa yang lain juga sibuk dengan kertas putih dan tinta hitam mereka. Apalagi
disaat yang bersamaan seorang teman yang tepat duduk berdekatan juga
membutuhkan sebuah jawaban. Bukankah ini kesempatan emas untuk mendapat nilai
sempurna dalam ujian?
Jika kembali
kita lihat dari sudut pandang yang berbeda tentu ini bukan untuk membentuk
karakter kejujuran. Namun, mungkin saja makin memperumit masalah yang sejak
dulu tak bisa dipecahkan ini. Benar-benar tak masuk akal, bukan?
Athirah Bone
sebagai sekolah yang berslogan Anggun,Unggul, Cerdas malah unjuk diri
dengan hadirnya sistem ini. Mereka percaya bahwa seluruh anak Athirah telah
melalui seleksi yang begitu panjang untuk masuk di sekolah yang bertaraf
nasional ini sehingaa betul-betul orang terpilihlah yang berhak berpijak sebagai
siswa di sekolah tersebut. Namun, itu menurut beberapa orang bukanlah sebuah
jaminan. Remaja tetaplah remaja. Remaja yang aktif dan selalu penuh rasa
penasaran.
Kunci Jawaban
disimpan di atas meja masing-masing
Hal ini yang lebih tak masuk akal. Mana ada sekolah yang membiarkan
siswa memegang kunci jawaban saat ujian? Itu hanya ada di Athirah Bone. Kunci
jawaban dalam keadaan dibalik disimpan tepat di atas dan depan mata para siswa. Kertas yang berukuran
seperempat dari ukuran sempurna sebuah kertas HVS itu di balik posisinya ada
sebuah kunci jawabn dari mata pejaran yang sedang di ujiankan saat itu juga.
Untuk melihat kunci jawaban itu siswa hanya membalik kertas itu dan tidak
merubah posisinya serta melirik dengan mata yang tajam beberapa nomor kunci
jawaban itu. Itu jika dia mau saat dia sedang menjalankan ujian. Artinya siswa
seperti itu gagal dalam pembentuk karakter kejujurannya. Di tambah satu hal
mengejutkan lagi, para siswa diberikan hak untuk memeriksa sendiri hasil
jawabannya dengan melihat kunci jawaban.
Hal ini juga tak kalah mengundang tanda tanya besar.
Dalam kesempatan tersebut bukan peluang kecil beberapa para siswa mengganti
jawabannya dengan yang sesuai dikunci jawaban yang telah disediakan itu. Lagi-lagi
bukankah ini hanya menambah masalah akan menurunya karakter kejujuran siswa?
Sungguh, Athirah Bone membuat setiap orang tercengang akan sistem yang
betul-betul tak masuk akalnya.
***
Setiap sekolah
pasti menginginkan siswanya untuk punya karakter yang bermutu. Pun dengan
Athirah Bone sebagai sekolah yang bermutu
di Sulawesi Selatan tentu selalu berusaha untuk menerapkan sistem demi terwujudnya
pembentukan karakter, terutama karakter kejujuran. 2 hal sistem di atas memang
menurut beberapa orang dan para siswa juga tak kalah dibuat tercengang
menganggap bahwa sistem ini benar-benar tak masuk akal.
Para siswa
Athirah Bone yang menjadi sasaran dan menjalani penerapan sistem ini tentu
punya sudut pandang yang berbeda. Namun, hampir seluruh siswa lebih mendominasi
mempunyai sudut pandang yang negatif.
“Ini hanya membuat kami down di hari ujian esoknya...”
“Sungguh, kunci jawaban itu sangat menggoda apalagi tanpa pengawas”
“Ah, ini hanya mengajarkan kami untuk berbohong”
“Saya tidak suka dengan sistem ini”
Itu adalah
beberapa ocehan siswa akan penerapan sistem tersebut. Lepas dari segala sudut
pandang negatif, tentu untuk menerapkan sistem ini bukanlah sebuah hal yang
dimain-mainkan. Bukan hanya sebgai uji percobaan belaka. Namun, sistem ini
diusahakan akan terus berlanjut hingga angkatan-angkatan selanjutnya.
Para guru dan
staf karyawan tidak hanya memberikan begitu saja bentuk penerapannya. Namun,
sebelum kami masuk dalam ruangan ujian kami diberi sepatah dua kata yang jika
kami mengingatnya akan menjadi alarm tersendiri ketika niat buruk itu
menghampiri. Sebagian siswa terutama yang menyukai tantangan sangat setuju akan
hadirnya sistem ini. Mereka merasa tertantang untuk melawan diri mereka
sendiri. Beda lagi dengan beberapa siswa yang terbilang punya karakter
regilius, mereka merasa bahwa ini benar-benar menguji keimanan mereka. Sistem
ini akan membuktikan apakah mereka benar-benar termasuk golongan yang jujur
atau munafik.
Seorang Kepala
Sekolah tentu punya rasa khawatir jika mereka menghadapi sistem yang seperti
ini karena merekalah yang memiliki tanggung jawab besar dari sisitem ini
sendiri. Bapak Syamsul Bahri, seorang Kepala Sekolah SMA Athirah Bone juga
merasakan seperti itu. Namun, beliau tidak akan membuat siswanya down –turun-
merasakan hal yang sama. Beliau harus terlihat tegar sebagai seorang Kepala
Sekolah.
“Kami memang tidak melihat, namun ada yang lebih besar melihat
kalian. ALLAH. Kami mungkin tidak akan terkecoh dengan jawaban kalian, sikap
kalian, namun Allah tidak akan mampu kalian kecoh. Kami mungkin tidak akan
menghukum kalian jika tak ketahuan melihat kunci jawaban itu. Tapi, sungguh
balasan Allah jauh lebih berat yang akan kalian dapatkan.” tutur Syamsul Bahri
S,pd.
Hadits dan ayat
al-quran tentang kejujuran tak lupa ditampilkan juga di atas kertas kunci
jawaban yang ada depan mereka. Jadi, selain para siswa mendapat motivasi juga
kembali diingatkan melalui kunci jawaban itu sendiri.
Harapan mereka
sebagai tenaga pendidik dengan diterapkan sistem ini adalah agar mereka terbiasa untuk bersikap
jujur dalam keadaan bagaimana pun. Sistem ini sebagai bentuk pembiasaan sejak
dini dalam karakter jujur. Sekali lagi, sekolah punya peranan besar untuk
pembentukan karakter. Maka dengan itu Athirah Bone turut andil dalam peran
tersebut. Semoga Athirah Bone bisa menjadi teladan bagi seluruh sekolah dalam
proses pembentukan karakter, terutama karakter kejujuran yang harus ditanamkan
sejak dini pada anak.
Wafiq Azizah Annisa R.
wafiq jiehhh....
BalasHapus